TASIKMALAYA, TentaraPolisi.id – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Aula Mapolres Tasikmalaya Kota, Senin (9/2/2026), menjadi momentum yang lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di hadapan puluhan insan pers dari organisasi PWI dan IJTI, Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, memberikan pengakuan terbuka yang mendalam mengenai relasi kuasa dan pengawasan di era digital.
Pernyataan “Polisi tidak bisa bekerja sendirian tanpa media” menjadi kalimat kunci yang membedah esensi hubungan kedua institusi ini dalam menjaga demokrasi dan keadilan.
Pengakuan Jujur di Tengah Arus Digital
AKBP Andi Purwanto menyadari bahwa tantangan kepolisian saat ini telah bergeser drastis. Di zaman ketika informasi sering kali lebih cepat daripada laporan resmi dan viralitas mendahului fakta, peran media profesional menjadi jangkar kebenaran.
“Berita sekarang bisa lebih cepat dari laporan resmi. Opini sering kali lebih kencang dari fakta,” ujar Andi, menggambarkan betapa kuatnya arus media sosial yang kini membentuk opini publik bahkan sebelum kepolisian menyelesaikan penanganan perkara di lapangan.
Dalam pandangannya, media bukan sekadar instrumen publikasi, melainkan “teman seperjalanan” dalam tugas perlindungan, pengayoman, dan penegakan hukum.
Garis Tegas Profesionalisme dan Verifikasi
Namun, di tengah keterbukaan tersebut, Kapolres Andi Purwanto menarik garis tegas mengenai standar profesi jurnalisme. Ia menegaskan bahwa mitra strategis kepolisian adalah media yang terdaftar dan berizin sesuai peraturan pemerintah.
Di era ketika setiap orang dengan ponsel pintar bisa mengklaim diri sebagai pemberi informasi, profesionalisme pers sedang diuji. Pers tidak hanya dituntut untuk cepat, tetapi juga tepat, berimbang, dan memiliki etika yang jelas.
“Kami butuh teman-teman semua di sini,” kata Kapolres. Kalimat ini menyiratkan pesan besar bahwa tanpa pers, penegakan hukum bisa menjadi tertutup dan kehilangan legitimasi publik. Sebaliknya, tanpa polisi, berita bisa kehilangan pijakan fakta dan aspek keadilannya.
Ketegangan yang Produktif demi Demokrasi
Peringatan HPN di Mapolres Tasikmalaya Kota ini menyiratkan bahwa hubungan ideal antara polisi dan wartawan bukanlah hubungan manis yang tanpa gesekan. Relasi yang sehat justru lahir dari “ketegangan produktif”—di mana media berani mengkritik dan polisi bersedia untuk dikritik.
Media tidak diciptakan untuk selalu memuji, dan polisi tidak dilahirkan untuk selalu merasa nyaman. Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama: memastikan hukum berjalan di atas rel keadilan dan masyarakat mendapatkan kebenaran, bukan sekadar keramaian informasi.
Melalui HPN 2026 ini, Polres Tasikmalaya Kota menegaskan bahwa keterbukaan terhadap media adalah kunci utama dalam meraih kembali dan menjaga kepercayaan publik (public trust) di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.









